KANKER SERVIKS
Kanker serviks adalah kanker primer serviks (kanalis servikalis dan/ atau porsio). Kanker pada kehamilan merupakan hal yang jarang dan kanker serviks merupakan keganasan yang paling sering pada kehamilan. Insidensi kanker serviks adalah 1,2 kasus per 10.000 kehamilan pada saat kehamilan saja dan 4,5 kasus per 10.000 kehamilan hingga 12 bulan pascapersalinan.
Setiap tahunnya sekitar 500.000 perempuan didiagnosa menderita kanker serviks dan hampir 300.000 meninggal dunia. Secara total 2,2 juta perempuan di dunia menderita kanker serviks. Kanker serviks cenderung muncul pada perempuan berusia 35-55 tahun, namun dapat pula muncul pada perempuan dengan usia yang lebih muda. Di Indonesia, diperkirakan setiap harinya terjadi 41 kasus baru kanker serviks dan 20 perempuan meninggal dunia karena penyakit tersebut.
ETIOLOGI
Sebab langsung dari kanker serviks belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik, di antaranya yang penting adalah jarang ditemukan pada perawan (virgo), insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin daripada yang tidak kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama (coitarche) dialami pada usia amat muda (<16 th), insidensi meningkat dengan tingginya peritas, apalagi bila jarak persalinan terlampau dekat, mereka dari golongan sosial ekonomi rendah, higiene seksual yang jelek, aktivitas seksual yang sering berganti-ganti pasangan (promiskuitas), jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi), sering ditemukan pada perempuan yang mengalami infeksi virus HPV tipe 16 atau 18, dan akhirnya kebiasaan merokok.
Setelah terjadi infeksi HPV pertama, perkembangan ke arah kanker serviks bergantung dari jenis HPV-nya. HPV tipe resiko rendah atau tinggi dapat menyebabkan kelainan yang disebut lesi pra kanker. Tipe HPV beresiko rendah (tipe 6 dan 11) hampir tidak beresiko menjadi kanker serviks, tapi dapat menimbulkan genital warts.
Walaupun sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 tahun karena adanya sistem kekebalan tubuh alami, infeksi menetap yang disebabkan oleh tipe-tipe HPV yang beresiko tinggi seperti tipe 16 atau 18 akan mengarah pada kanker serviks. Kanker serviks mulai berkembang ketika sel-sel abnormal pada dinding serviks mulai memperbanyak diri tanpa terkontrol dan membentuk sebuah benjolan yang disebut tumor.

Walaupun kanker serviks umumnya diderita oleh perempuan dalam umur lanjut, kadang-kadang dijumpai pula pada perempuan yang lebih muda. Biasanya penderita tidak menjadi hamil; jika ditemukan, umumnya pada multigravida yang pernah melahirkan 4 kali atau lebih.
Kanker serviks memberi pengaruh tidak baik dalam kehamilan, persalinan, dan nifas. Selain kemandulan, sering pula terjadi pada abortus akibat infeksi, perdarahan, dan hambatan dalam pertumbuhan janin karena neoplasma tersebut. Kematian janin dapat pula terjadi.
Karena serviks kaku oleh jaringan kanker, persalinan kala satu mengalami hambatan. Ada kalanya tumornya lunak dan hanya terbatas pada sebagian serviks, sehingga pembukaan dapat menjadi lengkap dan anak lahir spontan. Selain itu, dapat pula teradi ketuban pecah dini dan inersia uteri. Dalam masa nifas sering terjadi infeksi. Dahulu disangka bahwa kehamilan menyebabkan tumor bertumbuh lebih cepat dan menyebabkan prognosis menjadi lebih buruk. Akan tetapi, ternyata bahwa kehamilan sendiri tidak mempengaruhi kanker serviks.

stage CIN
sebagian besar tumor serviks adalah karsinoma sel skuamosa. Karsinoma serviks didahului oleh stadium prainvasif yang disebut neoplasia intraepitel serviks (cervical intraepithelial neoplasia/ CIN).
CIN I: epitel memperlihatkan lapisan-lapisan yang sedikit mengalami disorganisasi yang terbatas di lapisan basal dan suprabasal
CIN II: epitel memperlihatkan disorganisasi yang hampir menyeluruh, tetapi lapisan paling atas masih memperlihatkan pematangan. Sel-sel skuamosa permukaan menggepeng
CIN III: atau karsinoma in situ. Epitel memperlihatkan hilangnya arsitektur normal secara total. Sel-sel atipik ditemukan di semua lapisan epitel dan tidak terdapat tanda-tanda pematangan di lapisan superfisial.
Tumor yang sudah lanjut mudah dikenal. Lain halnya dengan tumor stadium dini, lebih-lebih tumor yang belum memasuki jaringan di bawah epitel (preinvasive carcinoma/ karsinoma in situ). Oleh karena itu, di beberapa negara pemeriksaan sitologi vaginal merupakan pemeriksaan rutin pada setiap perempuan hamil, yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi apabila diperoleh hasil yang mencurigakan. Diagnosis karsinoma in situ dalam kehamilan sangat sulit karena dalam kehamilan dapat terjadi perubahan-perubahan pada epitel serviks, yang secara mikroskopis hampir tidak dapat dibedakan dari tumor tersebut. Untuk membuat diagnosis yang pasti perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti berulang kali, bahkan kadang-kadang kepastian baru diperoleh setelah bayi lahir. Perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pengaruh estrogen dalam kehamilan sifatnya reversibel, sedang karsinoma in situ ada setelah bayi lahir. Apabila terdeteksi pada pemeriksaan prenatal, maka diagnosisnya lebih dini.
Diagnosis definitif ditegakkan berdasarkan:
1. biopsi punch dari lesi yang luas

Biopsi kerucut (cone)

Pap Smear

Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks. Ketepatan diagnosis sitologinya + 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada displasia ringan/ sedang. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50%, sebagian besar disebabkan pengambilan sediaan yang tidak adekuat.
STADIUM dan PENATALAKSANAAN
Dinilai berdasarkan kategori FIGO (2000) berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan pencitraan. Pada kehamilan, penentuan diagnosis lebih rumit karena adanya keterbatasan pemeriksaan pencitraan yang dapat dilakukan (MRI). Evaluasi klinik pada saat hamil kurang akurat untuk menentukan diagnosis kanker serviks.
|
Tingkat |
Kriteria |
Penatalaksanaan |
|
0 |
Karsinoma in situ/ karsinoma intraepitel |
Biopsi kerucut, histerektomi* transvaginal |
|
I |
Tumor terbatas pada serviks (atau uterus) |
|
|
Ia |
Karsinoma serviks preklinik, hanya dapat didiagnosis secara mikroskopik, lesi tidak lebih dari 3 mm, atau secara mikroskopik kedalamannya > 3-5 mm dari epitel basal dan memanjang tidak lebih dari 7 mm |
|
|
Ib |
Lesi invasif > 5 mm, dibagi atas lesi < 4 cm dan > 4 cm |
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul |
|
II |
Tumor di luar serviks/ uterus, tapi tidak lewat sepertiga proksimal vagina |
|
|
IIa |
Penyebaran hanya ke vagina |
|
|
IIb |
Penyebaran ke parametrium uni/bilateral, tapi belum sampai dinding panggul |
Histerektomi transvaginal |
|
III |
Tumor masuk vagina distal dan dinding panggul |
|
|
IIIa |
Penyebaran ke vagina distal, tapi tidak ke dinding panggul |
|
|
IIIb |
Penyebaran ke dinding panggul, sudah ada gangguan faal ginjal |
|
|
IVa |
Tumor menyebar ke organ sekitar (rektum, vesika urinaria) |
Radioterapi, radiasi paliatif, kemoterapi |
|
IVb |
Metastasis jauh |
*histerektomi, hystera = uterus
Saat ini kanker serviks dapat dicegah dengan pemberian vaksin HPV yang dapat membantu memberikan perlindungan terhadap beberapa tipe HPV yang dapat menyebabkan masalah dan komplikasi dari kanker serviks dan genital warts.
REFERENSI
American Cancer Society. Cervical Cancer Detailed Guidelines. www.cancer.org (11 November 2008)
Anonim. FIGO Staging System. http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/FIGO+staging+system. (11 November 2008)
Damjanov, Ivan. Buku Teks dan Atlas Histopatologi. 2003. Jakarta: Widya Medika
Sjamsuhidajat, R., Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2005. Jakarta: EGC
Posted by: rhezvolution on: January 5, 2009
ANTENATAL CARE
Definisi
Antenatal Care/ Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan (pada beberapa kepustakaan disebut sebagai Prenatal Care).
Pelayanan antenatal
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan.
Asuhan antenatal HARUS dimulai sedini mungkin.
Perencanaan
Jadwal pemeriksaan (usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir) :
- sampai 28 minggu : 4 minggu sekali
- 28 – 36 minggu : 2 minggu sekali
- di atas 36 minggu : 1 minggu sekali
KECUALI jika ditemukan kelainan / faktor risiko yang memerlukan penatalaksanaan medik lain, pemeriksaan harus lebih sering dan intensif.
Kunjungan pertama
Mayoritas wanita mendapatkan pemeriksaan pra-kehamilan mereka yang pertama dan terlama pada usia kehamilan sekitar 8 hingga 12 minggu. Semakin awal melakukan pemeriksaan, semakin baik. Ibu harus meluangkan banyak waktu untuk berkonsultasi dengan dokter atau bidan, bahkan ibu mungkin akan ditawari untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG) oleh dokter.
Pertanyaan yang harus diajukan pada ibu
ibu harus ditanyai banyak hal mengenai kesehatan dan sejarah keluarga ibu, seperti:
Penyakit yang ibu derita (sebagai contoh, apakah ibu sedang menjalani pengobatan terhadap penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi)
Operasi yang pernah ibu jalani
Apakah pernah terjadi komplikasi dalam kehamilan sebelumnya seperti keguguran, kelahiran prematur, atau pre-eklampsia?
Jika ibu pernah melahirkan bayi abnormal, sebagai contoh spina bifida ?
Apakah ada riwayat keluarga mengenai penyakit keturunan seperti talasemia atau fibrosis kistik?
Apakah ada yang kembar dalam keluarga ibu.
Etnis ibu, karena beberapa kondisi turunan tertentu yang memerlukan perhatian pada masa-masa awal kehamilan umum ditemui pada beberapa kelompok etnis tertentu.
Bidan atau dokter ingin mengetahui tanggal hari pertama dari menstruasi terakhir ibu, untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi akan dilahirkan. Ibu sendiri mungkin ingin mengajukan banyak pertanyaan. Ini merupakan kesempatan yang tepat, dan akan lebih bagus bila ibu menuliskan lebih dahulu apa yang ingin ibu tanyakan.
Pemeriksaan
Selama kunjungan, periksalah:
Berat badan ibu. Mayoritas wanita bertambah berat badannya sebesar 10-12,5 kg selama kehamilan, kebanyakan terjadi setelah minggu ke-20.
Tinggi badan ibu. Karena tinggi badan merupakan gambaran kasar mengenai ukuran luas panggul.
Pemeriksaan fisik menyeluruh –jantung dan paru-paru untuk memastikan bahwa secara umum ibu berada dalam keadaan sehat.
Air seni – mintalah ibu menyerahkan contoh air seninya setiap kali mengadakan kunjungan. Contoh air seni ini akan digunakan untuk mencek beberapa hal termasuk :
Gula – sebagian wanita menderita sejenis diabetes selama masa kehamilan yang dikenal sebagai ‘diabetes gestasional’ yang biasanya dapat dikontrol lewat perubahan diet dan, kemungkinan, insulin. Kondisi ini biasanya hilang begitu sang bayi lahir;
Protein, atau ‘albumin’ dalam air seni ibu dapat menunjukkan apakah ada infeksi yang memerlukan perawatan. Kadar protein juga dapat menjadi pertibu hipertensi (tekanan darah tinggi) akibat kehamilan.
Tekanan darah – ukurlah tekanan darah ibu setiap kali kunjungan. Kenaikan tekanan darah pada akhir-akhir masa kehamilan dapat menjadi pertibu pre-eklampsia.
Tes darah
tawari ibu untuk melakukan pemeriksaan darah untuk memeriksa :
Golongan darahnya
Apakah darahnya mempunyai rhesus negatif atau positif – sebagian kecil ibu memiliki rhesus negatif. Sebagian ibu yang rhesus negatif akan memerlukan suntikan setelah kelahiran bayi pertama mereka untuk melindungi bayi berikutnya dari anemia.
Apakah ibu penderita anemia – jika ibu penderita anemia, ibu diberikan tablet besi dan asam folat.
Daya tahan tubuh ibu terhadap rubela (campak Jerman) – jika ibu mendapat rubela di awal-awal masa kehamilan, penyakit ini dapat menyebabkan konsekuensi serius bagi bayi dalam kandungan ibu.
Sifilis – deteksi dan perawatan sedini mungkin bagi wanita penderita penyakit yang ditularkan lewat hubungan seks ini merupakan sesuatu yang vital.
Hepatitis B – ini merupakan virus yang menyebabkan penyakit hati dan dapat menular pada bayi. Sang bayi dapat diimunisasi pada saat lahir untuk mencegah penularan.
Tes Khusus
Sejumlah tes harus dilakukan pada kunjungan pertama ibu. Bicarakan alasan tes tersebut dengan ibu sehingga ibu dapat menentukan pilihan apakah harus melakukan tes tersebut atau tidak berdasarkan informasi lengkap. Terangkanlah hasil tes tersebut jika ibu memutuskan untuk menjalaninya.
Tes darah HIV – HIV merupakan virus yang menyebabkan AIDS. Jika ibu berpendapat bahwa ibu berada dalam risiko mendapat HIV, berilah kesempatan pada ibu untuk membahas tes HIV dan konseling. Jika ibu positif mengidap HIV, ibu bisa berkonsultasi dengan organisasi yang berhubungan dengan wanita dan HIV serta AIDS.
Penyakit anemia sel sabit dan talasemia – penyakit sel sabit merupakan sebuah kondisi darah yang terutama menyerang orang-orang Afrika dan India Barat serta, lebih jarang, orang-orang India, Timur Tengah, dan Mediterania. Talasemia, sebuah kondisi darah lainnya, terutama menyerang orang-orang Mediterania dan Asia.
Pemeriksaan dalam – kadang-kadang, dokter menganggap perlu untuk melakukan pemeriksaan dalam.
Apusan mulut rahim – ibu ditawari sebuah tes apusan mulut rahim sekarang jika ibu belum pernah melakukannya dalam tiga tahun terakhir. Tes ini mendeteksi perubahan awal pada bagian mulut rahim yang bisa menjadi kanker di kemudian hari jika tidak dirawat.
Herpes – jika ibu, atau pasangan ibu, pernah menderita herpes pada organ reproduksi, atau ibu mendapat serangan pertama selama masa kehamilan. Hal ini penting karena herpes dapat berbahaya bagi bayi yang baru dilahirkan yang mungkin memerlukan perawatan khusus
Kunjungan berikutnya
Setelah kunjungan pra-kelahiran pertama ibu, pengecekan biasanya dilakukan setiap 4 minggu selama 28 minggu, tiap 2 minggu selama 36 minggu, dan setiap minggu hingga sang bayi lahir. Air seni dan tekanan darah ibu, dan seringkali berat ibu, akan dicek. Perut ibu akan diraba untuk mencek posisi serta pertumbuhan bayi. Dan dokter atau bidan ibu akan mendengarkan detak jantung janin ibu.
EDUKASI UNTUK PERAWATAN SEHARI-HARI
Aktifitas Fisik
Dapat seperti biasa (tingkat aktifitas ringan sampai sedang), istirahat minimal 15 menit tiap 2 jam.
Jika duduk/berbaring dianjurkan kaki agak ditinggikan.
Jika tingkat aktifitas berat, dianjurkan untuk dikurangi. Istirahat harus cukup.
Olahraga dapat ringan sampai sedang, dipertahankan jangan sampai denyut nadi melebihi 140 kali per menit.
Jika ada gangguan / keluhan yang mencurigakan dapat membahayakan (misalnya, perdarahan per vaginam), aktifitas fisik harus dihentikan.
Pekerjaan
Hindari pekerjaan yang membahayakan atau terlalu berat atau berhubungan dengan radiasi / bahan kimia, terutama pada usia kehamilan muda.
Imunisasi
Terutama tetanus toksoid. Imunisasi lain sesuai indikasi.
Mandi dan cara berpakaian
Mandi cukup seperti biasa.
Pemakaian sabun khusus / antiseptik vagina tidak dianjurkan karena justru dapat mengganggu flora normal vagina.
Aplikasi sabun vaginal dengan alat semprot dapat menyebabkan emboli udara atau emboli cairan yang dapat berbahaya.
Berpakaian sebaiknya yang memungkinkan pergerakan, pernapasan dan perspirasi yang leluasa.
Sanggama / coitus
Dapat seperti biasa, kecuali jika terjadi perdarahan atau keluar cairan dari kemaluan, harus dihentikan (abstinentia).
Jika ada riwayat abortus sebelumnya, coitus ditunda sampai usia kehamilan di atas 16 minggu, di mana diharapkan plasenta sudah terbentuk, dengan implantasi dan fungsi yang baik.
Beberapa kepustakaan menganjurkan agar coitus mulai dihentikan pada 3-4 minggu terakhir menjelang perkiraan tanggal persalinan. Hindari trauma berlebihan pada daerah serviks / uterus.
Pada beberapa keadaan seperti kontraksi / tanda-tanda persalinan awal, keluar cairan pervaginam, keputihan, ketuban pecah, perdarahan pervaginam, abortus iminens atau abortus habitualis, kehamilan kembar, penyakit menular seksual, sebaiknya coitus jangan dilakukan.
Perawatan mammae dan abdomen
Jika terjadi papila retraksi, dibiasakan papillla ditarik manual dengan pelan. Striae / hiperpigmentasi dapat terjadi, tidak perlu dikuatirkan berlebihan.
Hewan piaraan
Hewan piaraan dapat menjadi carrier infeksi (misalnya, bulu kucing / burung, dapat mengandung parasit toxoplasma). Dianjurkan menghindari kontak.
Gizi / nutrisi
Makanan sehari-hari dianjurkan yang memenuhi standar kecukupan gizi untuk ibu hamil
Untuk pencegahan anemia defisiensi, diberi tambahan vitamin dan tablet Fe
REFERENSI
Anonim. http://situs.kesrepro.info/kia/mei/2002/kia01.htm (28 Oktober 2008)
Anonim. http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/03/pemeriksaan-obstetri-dan-asuhan-antenatal/ (28 Oktober 2008)
Bagian Obstetri dan Ginekologi. Obstetri Fisiologi. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung
Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan, Edisi Ketiga. 1997. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Posted by: rhezvolution on: June 23, 2008
DISTENSI ABDOMEN
Distensi abdomen mungkin berkaitan dengan peningkatan gas di dalam saluran cerna atau ada asites. Peningkatan gas dapat disebabkan oleh malabsorpsi, kolon iritabel, atau aerofagia. Asites dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, seperti sirosis, GJK, hipertensi portal, peritonitis, atau neoplasia.
Distensi gas yang berkaitan dengan makan bersifat intermiten dan hilang dengan flatus atau bersendawa. Pasien dengan asites mengalami peningkatan lingkaran perut secara tidak kentara yang terlihat pada bertambahnya ukuran ikat pinggang secara progresif. Hilangnya selera makan sering dikaitkan dengan sirosis dan keganasan, meskipun stadium akhir GJK mungkin menimbulkan gejala ini pula.
FLATULENSI
Flatulensi (perut kembung) adalah meningkatnya jumlah gas dalam saluran pencernaan. Udara adalah gas yang dapat tertelan bersama makanan. Menelan sedikit udara adalah normal tetapi secara tidak sadar, beberapa orang menelan udara dalam jumlah banyak, terutama bila terjadi kecemasan. Sebagian besar udara yang masuk kemudian dikeluarkan lagi melalui sendawa. Sehingga hanya sebagian kecil saja yang melewati lambung menuju ke saluran pencernaan berikutnya. Masuknya sejumlah besar udara menyebabkan seseorang merasa penuh dan orang tersebut akan bersendawa atau mengeluarkannya melalui anus (kentut/flatus).
Gas-gas yang lain juga dihasilkan di dalam saluran pencernaan:
Tubuh akan mengeluarkan gas tersebut melalui sendawa, penyerapan gas melalui dinding saluran pencernaan ke dalam darah dan mengeluarkannya melalui paru-paru, anus (kentut). Bakteri-bakteri pada saluran pencernaan juga ikut memetabolisme beberapa gas.
Flatulensi biasanya menyebabkan nyeri perut, kembung, sendawa dan banyak kentut. Tetapi hubungan antara flatulensi dan beberapa gejala ini tidak diketahui. Beberapa orang tampaknya peka terhadap pengaruh gas dalam saluran pencernaan, sedangkan yang lainnya bisa mentolerir sejumlah besar gas tanpa menimbulkan gajala-gejala. Flatulen bisa menyebabkan sendawa yang berulang-ulang. Dalam keadaan normal, pengeluaran gas melalui anus terjadi lebih dari 10 kali dalam sehari, pada flatulensi, pengeluaran gas lebih sering terjadi. Bayi dengan kram perut kadang-kadang mengeluarkan gas dalam jumlah yang berlebihan.
Perut kembung dan sendawa memang sulit untuk dihilangkan. Jika terus bersendawa merupakan masalah yang utama, bisa dibantu dengan mengurangi jumlah udara yang masuk/tertelan. Tetapi hal ini sulit, karena udara sering tertelan tanpa disadari. Mungkin bisa dibantu dengan makan perlahan dan santai dan menghindari mengunyah permen karet. Orang yang sering bersendawa atau mengeluarkan gas secara berlebihan harus mengubah pola makannya dengan menghindari makanan yang sulit dicerna. Bila diketahui makanan penyebabnya, maka harus mengurangi konsumsi makanan tersebut. Bisa dimulai dengan menghindari susu dan produk olahannya, kemudian buah segar, sayuran tertentu dan makanan lainnya. Sendawa juga bisa disebabkan oleh minuman bersoda atau antasid (misalnya baking soda).
Kembung perut dapat terjadi akibat kita terlalu banyak mengonsumsi kacang-kacangan yang mengandung oligosakarida. Konsumsi oligosakarida yang berlebih dapat menyebabkan timbulnya gejala flatulensi, yaitu suatu keadaan menumpuknya gas dalam lambung. Oligosakarida terdiri dari komponen-komponen verbaskosa, stakiosa, dan rafinosa. Oligosakarida dari famili rafinosa tidak dapat dicerna karena mukosa usus mamalia tidak mempunyai enzim pencernanya, yaitu alfa-galaktosidase, sehingga tidak dapat diserap oleh tubuh.
Bakteri-bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan (terutama pada bagian usus halus) akan memfermentasi rafinosa menghasilkan berbagai macam gas, seperti karbondioksida, hidrogen, dan sejumlah kecil metan. Gas-gas tersebutlah yang menyebabkan flatulensi. Meskipun tidak bersifat toksik, flatulensi dapat berakibat serius. Peningkatan tekanan gas dalam rektum dapat menyebabkan tanda-tanda patologis, seperti sakit kepala, pusing, penurunan daya konsentrasi, atau sedikit perubahan mental dan Edema. Flatulensi juga dapat berakibat pada timbulnya dipepsi dan konstipasi usus serta diare.
Minum beberapa obat kadang membantu untuk mengurangi pembentukan gas, meskipun secara umum tidak efektif. Simethicone yang terdapat pada beberapa jenis antasid dan juga bisa diberikan secara terpisah, bisa mengurangi gejalanya. Kadang-kadang obat lain (antasid lainnya, metoclopramide dan betanecol) juga dapat membantu. Pada beberapa penderita, makanan yang lebih banyak mengandung serat bisa membantu, tetapi pada penderita lainnya hal ini akan memperburuk keadaannya.
SPIDER NEVI
Sinonim dari spider nevi adalah Spider angioma, Spider nevus, Vascular spider, Nevus araneus, Arterial spider. Spider nevi berupa arteriol sentral dengan pembuluh-pembuluh tipis yang menyebar seperti laba-laba. Awalnya arteriol normal akan membuat cabang-cabang dan kemudian akan mengisinya dengan darah. TD pada arteriol kecil ini sekitar 50-70 mmHg dan suhunya lebih tinggi 2-3oC dari kulit disekitarnya.
Spider nevi mungkin benigna atau indikasi terhadap penyakit tertentu, seperti tirotoksikosis, RA, dan wanita pada kontrasepso oral. Namun yang paling sering adalah pada kelainan hati, terutama pada pasien dengan Hepatitis C. Pada dewasa, spider nevi ditemukan pada wajah, leher, dada atas, lengan, membran mukosa pada hidung, mulut atau faring. Pada pasien dengan sirosis, ditemukan pada daerah pleura maupun subpleura (dengan autopsi mikroskopik). Sirosis hati berhubungan dengan sirkulasi hiperdinamik dan spider nevi merupakan manifestasi kulit dari sirkulasi ini. Hal ini dibuktikan dengan arteriografi dan analisa gas darah yang diaspirasi dari arteri spider nevi pada pasien dengan sirosis hati.
Perlu dilakukan pada pasien:
Kemunculan spider nevi sangat erat kaitannya dengan penyakit hati. Spider nevi dengan trombositopenia, splenomegali, dan hipoalbuminemia sangat berguna untuk memprediksi fibrosis hati pada pasien dengan infeksi hepatitis C. Spider nevi yang disertai dispnea perlu dicurigai akan sindrom hepatopulmoner
ERITEMA PALMAR
Sinonim: liver palms, yaitu kondisi kulit memerah di daerah palmar biasanya di daerah tenar, hipotenar dan jari. Eritema palmar lebih tepat disebut marker daripada tanda untuk menentukan diagnosis.
Penyebab Eritema Palmar:
REFERENSI
A., Khasnis. Spider Nevus. http://www.jpgmonline.com/article.asp?issn=0022-3859;year=2002; volume=48;issue=4;spage=307;epage=9;aulast=Khasnis (20 Mei 2008)
Anonim. Ascites. http://www.fpnotebook.com/GI/Exam/Ascts.htm. (20 Mei 2008)
Anonim. Eritema. http://www.patient.co.uk/showdoc/40000107/ (21 Mei 2008)
Anonim. Flatulensi. http://www.indonesiaindonesia.com/f/10662-flatulensi/ (21 Mei 2008)
Swartz, Mark H. Buku Ajar Diagnostik Fisik. 2003. Jakarta: EGC
Posted by: rhezvolution on: June 22, 2008
SALIVA
Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis. Sekresi saliva normal sehari-hari berkisar antara 800-1500 mililiter dengan pH sekitar 6 sampai 7. Saliva terutama mengandung sejumlah besar ion kalium dan ion bikarbonat, kebalikan dari plasma dimana lebih banyak mengandung ion natrium dan klorida.
Saliva mengandung 2 tipe sekresi protein yang utama:
Masing-masing kelenjar menghasilkan tipe sekresi yang berbeda.
|
Kelenjar |
Tipe sekresi |
Sifat sekresi |
Persentase dari total saliva * (1,5 L) |
|
Parotis |
Serosa |
Berair |
20 |
|
Submandibularis |
Serosa dan mukosa |
Agak kental |
70 |
|
Sublingualis |
mukosa |
kental |
5 |
*5% volume saliva total dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar minor di rongga mulut.
Kelenjar submaksilaris mengandung asinus mukosa maupun asinus serosa. Sekresi primer dihasilkan oleh kedua asinus ini yang berupa ptialin dan/atau musin. Sewaktu sekres primer mengalir melalui duktus, terjadi dua proses transpor aktif utama yang memodifikasi komposisi ion saliva.
Hasil akhir dari transpor aktif adalah pada kondisi istirahat, konsentrasi masing-masing ion natrium dan klorida dalam saliva hanya sekitar 15 mEq/liter, ion kalium 30 mEq/liter, ion bikarbonat 50-70 mEq/liter. Selama salivasi maksimal, konsentrasi ionik saliva berubah. Kenapa? Karena sekresi primer oleh sel-sel asini meningkat 20 kali lipat [misal saat mengkonsumsi asam]. Oleh karena sekresi saliva bertambah, konsentrasi natrium klorida akan meningkat sekitar setengah sampai dua pertiga konsentrasi dalam plasma, sedangkan konsentrasi kalium turun hanya empat kali konsentrasi dalam plasma.
Sekresi saliva berada dibawah kontrol saraf. Rangsangan pada (1) saraf parasimpatis dari nukleus salivatorius superior(bagian dari nervus fasialis dan berlokasi di pontine tegmentum) menyebabkan sekresi liur cair dalam jumlah besar dengan kandungan bahan organik yang rendah. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi mencolok pada kelenjar, yang disebabkan oleh pelepasan VIP (vasoactive intestine polipeptide). Polipeptida ini adalah co-transmitter dengan asetilkolin pada sebagian neuron parasimpatis pascaganglion. Rangsangan (2) saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan sekresi sedikit saliva yang akan bahan organik dari kelenjar submandibulais.
Makanan dalam mulut menyebabkan refleks sekresi saliva, juga rangsangan serat-serat vagus eferen di ujung esofagus yang dekat dengan gaster. Faktor-faktor yang menyebabkan rangsang sekresi saliva adalah: melihat, mencium dan mengkonsumsi makanan yang meningkatkan nafsu makan. Daerah nafsu makan pada otak, terletak di daerah pusat parasimpatis hipotalamus anterior, dan berfungsi sebagai respon terhadap sinyal dari daerah pengecapan dan penciuman dari korteks serebral dan amigdala.
HORMON-HORMON SISTEM GASTROINTESTINAL
Dua kelompok besar hormon GI: (1) kelompok gastrin: gastrin dan kloesistokinin (CCK); dan (2) kelompok sekretin: sekretin, glukagon, glisentin, VIP, GIP.
Gastrin.
Dibentuk oleh sel G di dinding lateral kelenjar pada bagian antrum mukosa lambung. Gastrin juga ditemukan di pankreas janin, tapi belum pasti pada dewasa. Sekresi gastrin dipengaruhi oleh isi lambung, kecepatan pengiriman impuls melalui saraf vagus, dan berbagai faktor yang berasal dari darah. Lebih jelasnya lihat tabel.
|
Rangsang yang meningkatkan sekresi gastrin
Rangsang yang menghambat sekresi gastrin
asam
sekretin, GIP, VIP, glukagon, kalsitonin
|
Gas-gas yang lain juga dihasilkan di dalam saluran pencernaan:
LAPAR dan KENYANG
Bagi kebanyakan orang, lapar merupakan sekumpulan rasa yang sering terpusat pada perut. Hal itu kemungkinan dihubungkan dengan kontraksi yang terjadi pada perut atau usus. Dan digambarkan sebagai “kekosongan”. Ada beberapa teori yang menjelaskan mekanisme lapar ini. Yang pertama adalah teori gula darah yang dikemukakan oleh Bash, dimana Ia menyatakan bahwa ketika gula darah rendah menyebabkan rasa lapar. Ada pula teori asam lemak yang menyebutkan bahwa tubuh punya reseptor yang mencium adanya kenaikan tingkat asam lemak. Kegiatan reseptor karena adanya perubahan asam lemak inilah yang memicu rasa lapar.
Mekanisme lapar dan kenyang tidak sepenuhnya sama. Terdapat dua mekanisme rasa kenyang. Yang pertama di tingkat otak, sedangkan yang kedua di tingkat saluran lambung (gastrointestinal). Di dalam otak terdapat dua tempat di hypothalamus yang mengatur lapar dan makan. Nukleus-nukleus ventromedial memberi tanda kapan berhenti makan, sedangkan hypothalamus lateral memberi tanda kapan mulai makan. Di tingkat otak, kita merasa kenyang kerena fungsi-fungsi nukleus-nukleus ventromedial. Sebaliknya, pada tingkat saluran pencernaan, rasa kenyang berasal dari perut, yang mengatur aktivitas makan dalam jangka pendek.
REFERENSI
Anonim. Flatulensi. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?id=&iddtl=479&idktg=7&idobat=&UID= 20080428173720125.161.48.165. (28 April 2008)
Ganong, William F. Review of Medical Physiology. 2001. USA: McGraw-Hill
Guyton, Arthur C & John E. Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 1997. Jakarta: EGC
Silverthorn, Dee Unglaub. Human Physiology: An Integrated Approach. USA: Prentice Hall
Wiliarsih, Sefti. Lapar & Kenyang. http://akuasih.wordpress.com/2008/02/24/rasa-lapar/. (28 April 2008)
Posted by: rhezvolution on: June 22, 2008
Malnutrisi dapat terjadi oleh karena kekurangan gizi (undernutrition) maupun karena kelebihan gizi (overnutrition). Keduanya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh dan asupan zat gizi esensial.
Perkembangan malnutrisi melalui 4 tahapan:
1. Perubahan kadar zat gizi dalam darah dan jaringan
2. Perubahan kadar enzim
3. Kelainan fungsi pada organ dan jaringan tubuh
4. Timbulnya gejala-gejala penyakit dan kematian.
Kebutuhan tubuh akan zat gizi bertambah pada beberapa tahapan kehidupan tertentu, yaitu:
- pada masa bayi, awal masa kanak-kanak, remaja
- selama kehamilan
- selama menyusui.
Pada usia yang lebih tua, kebutuhan akan zat gizi lebih rendah, tetapi kemampuan untuk menyerap zat gizipun sering menurun. Oleh karena itu, resiko kekurangan gizi pada masa ini adalah lebih besar dan juga pada masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah.
PENILAIAN STATUS GIZI
Untuk menilai status gizi seseorang, ditanyakan tentang makanan dan masalah kesehatan, dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium tertentu. Pada pemeriksaan darah dilakukan pengukuran kadar zat gizi dan bahan-bahan yang tergantung kepada kadar zat gizi (misalnya hemoglogbin, hormon tiroid dan transferin).
Untuk menentukan riwayat makan seseorang, ditanyakan makanan apa yang dimakan dalam 24 jam terakhir dan jenis makanan seperti apa yang biasanya dimakan. Dibuat catatan tentang daftar makanan yang dimakan selama 3 hari. Selama pemeriksaan fisik, diamati penampilan secara keseluruhan dan tingkah lakunya, juga distribusi lemak tubuh serta fungsi organ tubuhnya.
Kekurangan zat gizi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Misalnya, perdarahan lambung dapat menyebabkan anemia karena kekurangan zat besi. Seseorang yang telah diobati dengan vitamin A dosis tinggi karena berjerawat, bisa mengalami sakit kepala dan penglihatan ganda sebagai akibat keracunan vitamin A.
Berbagai sistem tubuh bisa dipengaruhi oleh kelainan gizi:
Status gizi seseorang dapat ditentukan melalui beberapa cara, yaitu:
Foto rontgen dapat membantu menentukan densitas tulang dan keadaan dari jantung dan paru-paru, juga bisa menemukan kelainan saluran pencernaan yang disebabkan oleh malnutrisi. Pada malnutrisi yang berat, dilakukan pemeriksaan hitung jenis sel darah lengkap serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk mengukur kadar vitamin, mineral dan limbah metabolit seperti urea. Pemeriksaan kulit juga bisa dilakukan untuk menilai jenis-jenis tertentu dari kekebalan.
Pada orang-orang yang mempunyai penyakit kronik yang menyebabkan malabsorbsi, cenderung memiliki kesulitan dalam menyerap vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E dan K), vitamin B12, kalsium dan zat besi. Penyakit hati mengganggu penyimpanan vitamin A dan B12, dan mempengaruhi metabolisme protein dan glukosa (sejenis gula). Penderita penyakit ginjal cenderung mengalami kekurangan protein, zat besi dan vitamin D.
MALNUTRISI KALORI-PROTEIN (MKP)
MKP disebabkan oleh konsumsi kalori yang tidak memadai, yang mengakibatkan kekurangan protein dan mikronutrisi (zat gizi yang diperlukan dalam jumlah sedikit, misalnya vitamin dan mineral).
Terdapat tiga jenis MKP, yaitu:
MKP kering disebut marasmus, merupakan akibat dari kelaparan yang hampir menyeluruh. Seorang anak yang mengalami marasmus, mendapatkan sangat sedikit makanan, sering disebabkan karena ibu tidak dapat memberikan ASI. Badannya sangat kurus akibat hilangnya otot dan lemak tubuh. Hampir selalu disertai terjadinya infeksi. Jika anak mengalami cedera atau infeksi yang meluas, prognosanya buruk dan bisa berakibat fatal.
MKP basah disebut kwashiorkor, yang dalam bahasa Afrika berarti ‘anak pertama-anak kedua’. Istilah tersebut berdasarkan pengamatan bahwa anak pertama menderita kwashiorkor ketika anak kedua lahir dan menggeser anak pertama dari pemberian ASI ibunya. Anak pertama yang telah disapih tersebut mendapatkan makanan yang jumlah zat gizinya lebih sedikit bila dibandingkan dengan ASI, sehingga tidak tumbuh dan berkembang.
Kekurangan protein pada kwashiorkor biasanya lebih jelas dibandingkan dengan kekurangan kalori, yang mengakibatkan:
Anak yang menderita kwashiorkor biasanya telah menjalani penyapihan, sehingga usianya lebih besar daripada anak yang menderita marasmus.
MKP menengah disebut marasmik-kwashiorkor. Anak-anak yang menderita MKP ini menahan beberapa cairan dan memiliki lebih banyak lemak tubuh dibandingkan dengan penderita marasmus.
Kwashiorkor lebih jarang ditemukan dan biasanya terjadi dalam bentuk marasmik-kwashiorkor. Kwashiorkor cenderung terjadi di negara-negara dimana serat dan makanan digunakan untuk menyapih bayi (misalnya umbi jalar, singkong, beras, kentang dan pisang), yang sedikit mengandung protein dan sangat banyak mengandung zat tepung; yaitu di pedesaan Afrika, Karibia, kepulauan Pasifik dan Asia Tenggara.
Pada marasmus dan kwashiorkor sering terjadi diare dan anemia. Diare tampak pada sebagian besar penderita, dengan feses yang cair dan mengandung banyak asam laktat karenanya mengurangnya produksi laktase dan enzim disakaridase lain. Adakalanya diare demikian disebabkan pula oleh cacing (Trichuris Trichiura) dan parasit lain. Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita demikian. Bilamana kwashiorkor disertai oleh penyakit lain, terutama ankylostomiasis, maka dapat dijumpai anemia yang berat. Jenis anemia pada kwashiorkor bermacam-macam, seperti normositik normokrom, mikrositik hipokrom, makrositik hiperkrom, dll. Perbedaan macam anemia pada kwashiorkor dapat dijelaskan oleh kekurangan berbagai faktor yang mengiringi kekurangan protein, seperti zat besi, asam folik, vitamin B12, vitamin C, tembaga, dsb.
Pucat adalah suatu kondisi dimana berkurangnya jumlah oksihemoglobin pada kulit atau membran mukosa. Warna pucat mungkin disebabkan karena penyakit, syok, stress, menghindari sinar matahari, anemia, atau genetik. Pucat lebih terlihat pada wajah, terutama pada daerah terdapat membran mukosa (bibir, lidah, konjungtiva). Bedanya dengan hipopigmentasi adalah pucat bukan karena menghilangnya pigmen
REFERENSI
Anonim. http://www.emedicine.com/ped/TOPIC1360.HTM. (14 Mei 2008)
Anonim.http://www.humanitarianinfo.org/sumatra/reliefrecovery/health/docs/doc/UNICEFMALNUTRISI211005.pdf. (14 Mei 2008)
Pudjiadi, Solihin. Ilmu Gizi Klinis. 2005. Jakarta: FKUI