Rhezvolution Corner

ASMA: diagnosis, terapi, dan prognosis

Posted on: March 19, 2009

DIAGNOSIS. Mengi/wheezing berulang dan/atau batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menegakkan diagnosis. Asma sulit didiagnosis pada anak di bawah 3 tahun. Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan faal/fungsi paru sebaiknya dilakukan. Uji fungsi paru yang sederhana dengan peak flow meter, atau yang lebih lengkap dengan spirometer. Lainnya bisa melalui uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (exercise), udara kering dan dingin, atau dengan NaCl hipertonis.

Pemeriksaan ini berguna untuk mendukung diagnosis asma melalui 3 cara, yaitu didapatkannya:

  • Variabilitas pada PFR (peak flow rate) atau FEV1 (forced expiratory volume per satu detik) ≥15%

Variabilitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan/penurunan) hasil PFR dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan variabilitas mingguan yang pemeriksaannya berlangsung ≥ 2 minggu.

  • Reversibilitas pada PFR atau FEV1 ≥15%

Reversibilitas adalah perbedaan nilai (peningkatan) PFR atau FEV1 setelah pemberian inhalasi bronkodilator.

  • Penurunan ≥20% pada FEV1 setelah provokasi bronkus dengan metakolin atau histamin.

Penggunaan peak flow meter merupakan hal penting dan perlu diupayakan, karena selain mendukung diagnosis, juga mengetahui keberhasilan tata laksana asma. Jika tidak tersedia, dapat menggunakan Lembar Catatan Harian sebagai alternatif. Asma bisa langsung diketahui jika pasien menderita eczema, alergi (atopik) atau sejarah asma dalam keluarga.

TERAPI ASMA. The Global Initiative For Asthma (GINA) membagi tata laksana serangan asma menjadi dua, tata laksana di rumah dan di rumah sakit. Tata laksana di rumah dilakukan oleh pasien asma sendiri di rumah. Hal ini dapat dilakukan oleh mereka yang sebelumnya telah menjalani terapi dengan teratur, dan mempunyai pendidikan yang cukup. Terapi awal berupa inhalasi beta agonis kerja pendek hingga tiga kali dalam satu jam. Kemudian pasien atau keluarganya diminta melakukan penilaian respons untuk penentuan derajat serangan, untuk ditindaklanjuti sesuai derajatnya. Namun untuk kondisi di negara kita, pemberian terapi awal di rumah seperti di atas cukup riskan, dan kemampuan melakukan penilaian juga masih dipertanyakan. Dengan alasan demikian, maka apabila setelah dilakukan inhalasi satu kali tidak mempunyai respons yang baik, maka dianjurkan mencari pertolongan dokter.

TERAPI OBAT. Penghilangan unsur penyebab dari lingkungan hidup seorang pasien asmatik alergi merupakan cara yang paling baik hasilnya untuk mengatasi keadaan ini. Terapi desensitisasi atau imunoterapi dengan ekstrak allergen yang dicurigai telah memperoleh dukungan yang luas, namun penelitian terkontrol terhadap terapi ini masih terbatas dan belum terbukti jika terapi tersebut sangat efektif.

Obat yang digunakan dalam terapi asma dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori: preparat agonis beta-adrenergik, metilxantin, glukokortikoid, preparat penstabil sel mast, dan antikolinergik.

1. Stimulan adrenergik. Obat dalam kategori ini terdiri atas kelompok obat katekolamin, resorsinol, dan saligenin. Semua preparat ini berupa analog dan menghasilkan dilatasi jalan napas melalui stimulasi reseptor beta dan pembentukan cAMP sebagai hasilnya. Obat-pbat tersebut juga mengurangi pelepasan mediator dan memperbaiki transportasi mukosiliaris. Kelompok katekolamin dalam penggunaan klinis yang luas terdiri atas epinefrin, isoproterenol, isoetarin, rimiterol, dan helsoprenalin. Sebagai satu kelompok, senyawa ini bekerja sangat singkat dan hanya efektif melalui pemberian secara inhalasi atau parenteral. Dosis epinefrin yang lazim digunakan adalah 0,3 hingga 0,5 mL larutan 1:1000 dengan penyuntikan subkutan. Isoproterenol diberikan dalam bentuk larutan 1:200 dengan cara inhalasi.

Kelompok preparat resorsinol yang paling sering digunakan adalah metaproterenol, terbutalin serta fenoterol dan preparat saligenin yang dikenal paling luas adalah albuterol dan salbutamol. Kecuali metaproterenol, semua obat ini sangat selektif untuk traktus pernafasan dan pada hakekatnya kurang memberikan efek kardiak yang berarti kecuali jika digunakan dengan dosis tinggi. Efek sampingnya yang paling penting adalah tremor.

2. Metilxantin. Teofilin dan berbagai jenis garamnya merupakan bronkodilator dengan potensi sedang yang bekerja lewat mekanisme yang belum jelas. Dahulu diperkirakan bahwa obat ini akan meningkatkan cAMP melalui inhibisi enzim fosfodiestrase. Pemberian teofilin dosis tunggal di waktu sore mungkin dapat mengurangi gejala di malam hari. Sebaliknya, untuk pemberian senyawa oral dalam jumlah besar, hanya aminofilin yang tersedia untuk penggunaan intravena. Efek samping yang paling sering ditemukan pada pemakaian teofilin adalah gejala gugup, nausea, vomitus, anoreksia dan nyeri kepala. Dengan kadar plasma yang lebih dari 30 µg/mL terdapat risiko untuk terjadinya serangan kejang dan aritmia jantung.

3. Glukokortikoid. Glukokortikoid bukan merupakan preparat bronkodilator dan pemakaiannya yang penting pada penyakit asma adalah untuk mengurangi radang jalan napas. Preparat steroid akan memberikan hasil yang paling menguntungkan jika digunakan pada keadaan akut ketika obstruksi jalan napas yang berat tidak berkurang atau bahkan semakin memburuk kendati sudah dilakukan terapi yang optimal dengan bronkodilator, selain pada penyakit kronik jika terjadi kegagalan dengan susunan terapi yang sebelumnya memberikan hasil optimal dan disertai eksaserbasi gejala yang sering dengan intensitas yang progresif.

Dosis steroid yang harus diberikan masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Namun, data yang ada menunjukkan bahwa pemberian dosis yang sangat tinggi tidak mempunyai kelebihan dibandingkan pemberian dosis dengan jumlah yang lebih konvensional. Perlu ditekankan bahwa efek pemberian steroid pada serangan asma yang akut tidak timbul seketika dan mungkin baru terlihat 6 jam atau lebih sesudah pemberian inisialnya.

4. Penstabil Sel Mast. Kromolin sodium dan nedokromil sodium bukan merupakan preparat bronkodilator. Efek terapeutik utama yang dimiliki oleh kedua preparat ini adalah inhibisi terhadap proses degranulasi sel mast sehingga mencegah pelepasan mediator kimiawi untuk anafilaksis. Kromolin dan nedokromil, seperti halnya preparat steroid inhalasi akan memperbaiki fungsi paru, mengurangi gejala dan menurunkan reaktivitas jalan napas pada pasien asma. Preparat ini paling berkhasiat pada pasien atopic yang menderita serangan musiman atau yang mengalami stimulasi terus menerus pada jalan napasnya. Untuk menimbulkan efek penyembuhannya, uji coba terapeutik dengan dua kali hirupan per hari selama 4 hingga 6 minggu kadang diperlukan. Berbeda dengan steroid, nedokromil dan kromolin jika diberikan sebagai preparat profilaksis akan menyekat efek obstruktif yang akut akibat pajanan terhadap antigen, respons yang lanjut juga dihilangkan.

Dengan demikian, seorang pasien yang mengalami pajanan yang intermiten terhadap stimulus antigenik atau nonantigenik yang memicu serangan akut asma tidak perlu menggunakan obat ini secara terus menerus. Sebaliknya, pasie tersebut mudah dilindungi hanya dengan menggunakan kromolin atau nedokromil 15 hingga 20 menit sebelum mengalami kontak dengan zat yang menjadi pencetus serangan.

5. Antikolinergik. Obat antikolinergik seperti atropine sulfat akan menghasilkan bronkodilatasi pada pasien penyakit asma, namun penggunaanya dibatasi oleh efek sistemik yang ditimbulkan. Preparat kelompok ini (atropine metilnitrat dan ipratropium bromide) sangat bermanfaat khususnya bagi pasien penyakit asma yang juga menderita penyakit jantung. Kerugian utama yang tedapat pada penggunaan obat antikolinergik adalah bahwa obat tersebut bekerja lambat (60 hingga 90 menit sebelum efek puncak bronkodilatasi) dan memiliki potensi yang paling kecil.

TERAPI INHALASI. Pengobatan asma bertujuan untuk menghentikan serangan asma secepat mungkin, serta mencegah serangan berikutnya, ataupun bila timbul serangan kembali, serangannya tidak berat. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu diberi obat bronkodilator pada saat serangan, dan obat anti inflamasi sebagai obat pengendali untuk menurunkan inflamasi yang timbul.

Pemberian obat pada asma dapat melalui berbagai macam cara, yaitu parenteral (melalui infus), per oral (tablet diminum), atau per inhalasi. Pemberian per inhalasi adalah pemberian obat secara langsung ke dalam saluran napas melalui hirupan. Pada asma, penggunaan obat secara inhalasi dapat mengurangi efek samping yang sering terjadi pada pemberian parenteral atau per oral, karena dosis yang sangat kecil dibandingkan jenis lainnya.

Untuk mendapatkan manfaat obat yang optimal , obat yang diberikan per inhalasi harus dapat mencapai tempat kerjanya di dalam saluran napas. Obat yang digunakan biasanya dalam bentuk aerosol, yaitu suspensi partikel dalam gas.

Jenis Terapi Inhalasi

Pemberian aerosol yang ideal adalah dengan alat yang sederhana, mudah dibawa, tidak mahal, secara selektif mencapai saluran napas bawah, hanya sedikit yang tertinggal di saluran napas atas, serta dapat digunakan oleh pasien, orang cacat, dan orang tua. Namun keadaan ideal tersebut tidak dapat sepenuhnya tercapai.

Berikut beberapa alat terapi inhalasi:

  • Metered Dose Inhaler (MDI)
    1. MDI dengan Spacer
    2. MDI tanpa Spacer

Spacer (alat penyambung) akan menambah jarak antara alat dengan mulut, sehingga kecepatan aerosol pada saat dihisap menjadi berkurang. Hal ini mengurangi pengendapan di orofaring (saluran napas atas). Spacer ini berupa tabung (dapat bervolume 80 ml) dengan panjang sekitar 10-20 cm, atau bentuk lain berupa kerucut dengan volume 700-1000 ml. Penggunaan spacer ini sangat menguntungkan pada anak.

  • Dry Powder Inhaler (DPI)

Penggunaan obat dry powder (serbuk kering) pada DPI memerlukan hirupan yang cukup kuat. Pada anak yang kecil, hal ini sulit dilakukan. Pada anak yang lebih besar, penggunaan obat serbuk ini dapat lebih mudah, karena kurang memerlukan koordinasi dibandingkan MDI. Deposisi (penyimpanan) obat pada paru lebih tinggi dibandingkan MDI dan lebih konstan. Sehingga dianjurkan diberikan pada anak di atas 5 tahun.

  • Nebulizer

Alat nebulizer dapat mengubah obat yang berbentuk larutan menjadi aerosol secara terus-menerus, dengan tenaga yang berasal dari udara yang dipadatkan, atau gelombang ultrasonik. Aerosol yang terbentuk dihirup penderita melalui mouth piece atau sungkup.

Bronkodilator yang diberikan dengan nebulizer memberikan efek bronkodilatasi yang bermakna tanpa menimbulkan efek samping. Hasil pengobatan dengan nebulizer lebih banyak bergantung pada jenis nebulizer yang digunakan. Ada nebulizer yang menghasilkan partikel aerosol terus-menerus, ada juga yang dapat diatur sehingga aerosol hanya timbul pada saat penderita melakukan inhalasi, sehingga obat tdak banyak terbuang.

PROGNOSIS. Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir menunjukkan kurang dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi berisiko yang berjumlah kira-kira 10 juta. Namun, angka kematian cenderung meningkat di pinggiran kota dengan fasilitas kesehatan terbatas.

Informasi mengenai perjalanan klinis asma mengatakan bahwa prognosis baik ditemukan pada 50 sampai 80 persen pasien, khususnya pasien yang penyakitnya ringan timbul pada masa kanak-kanak. Jumlah anak yang menderita asma 7 sampai 10 tahun setelah diagnosis pertama bervariasi dari 26 sampai 78 persen, dengan nilai rata-rata 46 persen; akan tetapi persentase anak yang menderita penyakit yang berat relative rendah (6 sampai 19 persen).

Tidak seperti penyakit saluran napas yang lain seperti bronchitis kronik, asma tidak progresif. Walaupun ada laporan pasien asma yang mengalami perubahan fungsi paru yang irreversible, pasien ini seringkali memiliki tangsangan komorbid seperti perokok sigaret yang tidak dapat dimasukkan salam penemuan ini. Bahkan bila tidak diobati, pasien asma tidak terus menerus berubah dari penyakit yang ringan menjadi penyakit yang berat seiring berjalannya waktu. Beberapa penelitian mengatakan bahwa remisi spontan terjadi pada kira-kira 20 persen pasien yang menderita penyakit ini di usia dewasa dan 40 persen atau lebih diharapkan membaik dengan jumlah dan beratnya serangan yang jauh berkurang sewaktu pasien menjadi tua.

REFERENSI

Anonim. Tata Laksana Asma. http://keluargasehat.wordpress.com/2008/03/28/tata-laksana-asma/ (18 Maret 2009)

Anonim. Therapy for Asthma. http://www.fairview.org/healthlibrary/content/mdinhale.gif (18 Maret 2009)

Isselbacher, Kurt J., et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine). 2000. USA: McGraw-Hill

2 Responses to "ASMA: diagnosis, terapi, dan prognosis"

!@#$%^&*()(*&^%$#

*korslet deh otak gw

boljug ni gung kalo ada ltm bisa copas dari sinihahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2009
M T W T F S S
« Jan   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

%d bloggers like this: