Rhezvolution Corner

Infertilitas Faktor Wanita

Posted on: March 19, 2009

Infertilitas berarti telah melaksanakan upaya mendapatkan kehamilan selama satu tahun tetapi belum berhasil hamil dengan situasi rumah tangga normal. Sedangkan syarat untuk menjadi hamil adalah: endometrium uterus normal, siklus menstruasi normal, tuba (anatomis dan fungsi) normal, faktor suami (analisis sperma normal, kemampuan sanggama normal)

Penyebab infertilitas:

  1. faktor usia wanita
  2. faktor waktu lamanya perkawinan
  3. faktor suami (kelainan genitalia dan fungsi hubungan seks)
  4. faktor istri (gangguan hormonal, gangguan genitalia, faktor lendir serviks)
  5. faktor yang sebabnya tidak jelas (imunitas, psikologis)

epidemiologi penyebab infertilitas:

  1. 30-35% berasal dari pihak suami
  2. 60-65% berasal dari pihak istri dengan:
    1. faktor tuba 50%
    2. faktor ovarium 15-20%
    3. faktor uterus 8-10%
  3. faktor psikologis 8%
  4. faktor yang tidak diketahui 10%

GANGGUAN PADA SUSUNAN ENITALIA WANITA YANG DAPAT MENCEGAH FERTILISASI DAN IMPLANTASI:

UTERUS

· serviks

· ketidakramahan getah serviks (antibodi sperma)

· kerusakan serviks

· erosi serviks dan servisitis

· retroversi (jarang)

· korpus dan endometrium

· kelainan kongenital

· endometriosis interna

· endometriosis tuberkulosa

· mioma uteri à submukosa

· perlekatan uterus

TUBA FALOPII

· hipoplasia kongenital

· penempelan fimbriae

· bendungan tuba akibat AKDR

· hidrosalphinx

· sterilisasi tuba

spasme tuba

Masalah vagina

Kemampuan menyampaikan air mani ke dalam vagina sekitar serviks perlu untuk fertilitas. Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian ini adalah adanya sumbatan atau peradangan.

  1. Sumbatan psikogen disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan
  2. Sumbatan anatomik dapat karena bawaan atau perolehan.

Vaginitis karena Candida albicans atau Trichomonas vaginalis hebat dapat merupakan masalah, bukan karena antispermisidanya, melainkan antisanggamanya.

Sobrero menemukan spermatozoa di dalam lendir serviks dalam 90 detik sejak diejakulasikan, dan Bedford yang menghancurkan semua spermatozoa dalam vagina kelinci 5 menit sejak diejakulasikan mencatat bahwa penghancuran itu sama sekali tidak menghalangi terjadinya kehamilan. Itulah sebabnya mengapa vaginitis tidak seberapa menjadi masalah fertilitas.

Masalah serviks

Walaupun serviks merupakan sebagian dari uterus, namun artinya dalam reproduksi manusia baru diakui pada abad ke 19. Sims pada tahun 1868 adalah orang pertama yang menghubungkan serviks dengan infertilitas, melakukan pemeriksaan lendir serviks pascasanggama, dan melakukan inseminasi buatan. Baru beberapa lama kemudian Huhner memperkenalkan uji pascasanggama yang dilakukan pada pertengahan siklus haid.

Infertilitas yang berhubungan dengan faktor serviks dapat disebabkan oleh sumbatan kanalis servikalis, lendir serviks yang abnormal, malposisi dari serviks, atau kombinasinya. Terdapat berbagai kelainan anatomi serviks yang dapat berperan dalam infertilitas, yaitu cacat bawaan (atresia), polip serviks, stenosis akibat trauma, peradangan (servisitis menahun), sinekia (biasanya bersamaan dengan sinekia inrauterin) setelah konisasi, dan inseminasi yang tidak adekuat. Pernah dipikirkan bahwa vaginitis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dan Candida albicans dapat menghambat motilitas spermatozoa. Akan tetapi perubahan pH – akibat vaginitis ternyata tidak menghambat motilitasnya.

Masalah uterus

Spermatozoa dapat ditemukan dalam tuba Fallopii manusia secepat 5 menit setelah inseminasi. Dibandingkan dengan besar spermatozoa dan jarak yang harus ditempuhnya, kiranya tidak mungkin migrasi spermatozoa berlangsung hanya karena gerakannya sendiri. Tidak disangkal, kontraksi vagina dan uterus memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa ini. Pada binatang, kontraksi alat-alat itu terjadi karena pengaruh oksitosin yang dikeluarkan oleh hipotalamus sewaktu bersanggama. Pada manusia, oksitosin tidak berpengaruh terhadap uterus yang tidak hamil akan tetapi prostaglandin dalam air mani dapat membuat uterus berkontraksi secara ritmik. Ternyata prostaglandinlah yang memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa ke dalam uterus dan melewati penyempitan pada batas uterus dengan tuba itu. Ternyata pula, uterus sangat sensitif terhadap prostaglandin pada akhir fase proliferasi dan permulaan fase sekresi. Dengan demikian, kurangnya prostaglandin dalam air mani dapat merupakan masalah infertilitas.

Masalah lain yang dapat mengganggu transportasi spermatozoa melalui uterus adalah distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma, atau polip; peradangan endometrium, dan gangguan kontraksi uterus. Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu dalam hal implantasi, pertumbuhan intrauterin, dan nutrisi serta oksigenisasi janin.

Ada korelasi yang nyata antara endometriosis dan infertilitas. 30-40% wanita dengan endometriosis menderita infertilitas. Faktor penting yang menyebabkan infertilitas pada endometriosis ialah apabila mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlekatan jaringan disekitarnya. Hal ini menyebabkan mekanisme pengambilan ovum pun terganggu.

Masalah tuba

Frekuensi faktor tuba dalam infertilitas sangat bergantung pada populasi yang diselidiki. Peranan faktor tuba yang masuk akal ialah 25-50%. Dengan demikian, dapat dikatakan faktor tuba paling sering ditemukan dalam masalah infertilitas. Oleh karena itulah, penilaian potensi tuba dianggap sebagai salah satu pemeriksaan terpenting dalam pengelolaan infertilitas.

Deteksi ovulasi merupakan bagian integral pemeriksaan infertilitas karena kehamilan tidak mungkin terjadi tanpa ovulasi. Ovulasi yang jarang terjadi pun dapat menimbulkan infertilitas.

Deteksi tepat ovulasi kini tidak seberapa penting lagi karena diketahui spermatozoa dapat hidup dalam lender serviks sampai 8 hari. Deteksi tepat ovulasi baru diperlukan kalau akan dilakukan inseminasi buatan, menentukan saat senggama yang jarang dilakukan, atau kalau siklus haidnya sangat panjang. Bagi pasangan infertile yang bersenggama teratur, cukup dianjurkan senggama 2 hari sekali pada minggu dimana ovulasi diharapkan akan terjadi. Nasihat senggama yang terlampau ketat tidak diperlukan lagi.

Pengamatan korpus luteum secara langsung merupakan pemeriksaan yang dapat dipercaya, akan tetapi pemeriksaan dengan laparoskopi itu tidak dapat dilakukan secara rutin. Walau demikian, terdapat beberapa cara pemeriksaan dimana seorang klinikus dapat mendeteksi ovulasi atau mendiagnosis anovulasi dengan ketepatan yang layak.

Siklus haid yang teratur dan lama haid yang sama biasanya merupakan siklus haid yang berovulasi. Menurut Ogino, haid berikutnya akan terjadi 14 +/- 2 hari setelah ovulasi. Siklus haid yang tidak teratur, dengan lama haid yang tidak sama, sangat mungkin disebabakn oleh anovulasi. Amenore hampir selalu disertai kegagalan ovulasi.

Ovulasi kadang-kadang ditandai oleh nyeri perut bawah kiri atau kanan, pada kira-kira pertengahan siklus haid ini dianggap sebagai tanda ovulasi. Saat-saat ovulasi kadang-kadang disertai keputihan akibat pengeluaran lender serviks berlebihan, dan kadang-kadang disertai pula oleh perdarahan sedikit. Ketegangan jiwa atau nyeri payudara prahaid seringkali terjadi pada siklus haid yang berovulasi.

Perubahan lender serviks

Ovulasi terjadi bersamaan dengan memuncaknya pengaruh estrogen pada pertengahan siklus haid. Sesungguhnya penurunan pengaruh estrogen setelah memuncak itulah yang dipakai sebagai penunjuk terjadinya ovulasi. Respon alat-sasaran estrogen, sekurang-kurangnya dalam batas tertentu, berbanding langsung dengan besar rangsangannya. Oleh karena itu, pemeriksaan lendir serviks dan usap vagina serial dapat menentukan telah terjadinya dan saat terjadinya ovulasi, berdasarkan perubahan-perubahan sebagai berikut:

· Bertambah besarnya pembukaan ostium eksternum serviks.

· Bertambah banyaknya jumlah, bertambah panjangnya daya membenang, bertambah jernihnya, dan bertambah rendahnya viskositas lendir serviks.

· Bertambah tingginya daya serbu spermatozoa.

· Peningkatan persentase sel-sel kariopiknotik dan eosinofilik pada usap vagina.

Biopsi endometrium

Biopsi endometrium dapat pula dilakukan untuk menilai fungsi ovarium, walaupun tidak sering dilakukan lagi setelah tersedia fasilitas pemeriksaan hormonal.

Pemeriksaan pasangan infertil

  1. anamnesis suami istri, harus datang bersama-sama
  2. pemeriksaan fisik
    1. suami

i. konsultasi ahli urologi

ii. analisis sperma (dua kali dengan interval 2-3 bulan)

    1. istri

i. pemeriksaan ginekologi

  1. pemeriksaan menyeluruh, sebaiknya sudah dapat menetapkan sebab infertilitas dalam tiga bulan (tiga siklus menstruasi), dengan ketentuan suami dalam batas normal.
  2. pemeriksaan tambahan namun penting:
    1. biopsi endometrium
    2. histeroskopi
    3. laparoskopi, untuk mengetahui keadaan ovarium

Daftar Pustaka

Manuaba, Ida Bagus Gde. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. 2001. Jakarta: EGC

Sumapraja S. Ilmu Kandungan. 2008. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2009
M T W T F S S
« Jan   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

%d bloggers like this: