Rhezvolution Corner

TIROIDITIS

Posted on: March 19, 2009

Tiroiditis terdapat dalam beberapa bentuk:

1. akut (supuratif)

2. subakut (DeQuervain)

3. menahun

a. limfositik (Hashimoto)

b. non-spesifik

c. fibrosa-invasif (Riedel)

Penyakit ini biasanya berupa peradangan kronik yang umumnya bersifat imunologik. Penyakit sering disertai kelainan-kelainan autoimun sistemik. Tiroiditis infeksi tersendiri yang disebabkan oleh bakteri atau patogen lain sangat jarang terjadi pada orang yang imunokompeten tetapi dapat timbul pada pasien AIDS.

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi. Periksa leher terhadap kemungkinan asimetri. Tiroid normal hampir tidak nampak. Persilakan pasien untuk menelan, sambil mengamati gerakan naik tiroid. Pembesaran tiroid secara difus seringkali menyebabkan pembesaran leher secara merata.

Palpasi. Terdapat dua cara palpasi kelenjar tiroid. Cara anterior dilakukan dengan pasien dan pemeriksa duduk berhadapan. Dengan memfleksi leher pasien atau memutar dagu sedikit ke kanan, pemeriksa dapat merelaksasi muskulus sternokleidomastoideus pada sisi itu, sehingga memudahkan pemeriksaan. Tangan kanan pemeriksa menggeser laring ke kanan dan selama menelan, lobus tiroid kanan yang tergesar dipalpasi dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri. Lakukan hal serupa pada lobus kiri. Pada cara posterior, pemeriksa meletakkan kedua tangannya pada leher pasien, yang posisi lehernya sedikit ekstensi. Pemeriksa memakai tangan kirinya mendorong trakea ke kanan. Pasien diminta menelan sementara tangan kanan pemeriksa meraba tulang rawan tiroid. Lakukan cara yang sama saat pemeriksaan tiroid kiri.

Konsistensi kelenjar harus dinilai. Kelenjar tiroid normal mempunyai konsistensi mirip jaringan otot. Keadaan padat keras terdapat pada kanker atau luka parut. Lunak, atau mirip spons seringkali dijumpai pada goiter toksik. Nyeri tekan pada kelenjar tiroid terdapat pada infeksi akut aau perdarahan ke dalam kelenjar.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Untuk mendiagnosis kelainan kelenjar tiroid, dilakukan beberapa tes: TSH, Tiroksin (T4), Triiodotironin (T3). Tes yang pertama dilakukan adalah tes TSH. Ada dua jenis tes TSH, yaitu TSH clinic for neonatus dan sTSH (sensitive TSH). Di dalam darah T3 dan T4 terikat pada TBG (Thyroid Binding Globulin) sehingga tidak ada aktivitas. Maka dari itu, yang diperiksa adalah FT3 (Free T3) dan FT4 (Free T4). Hasil tes mungkin akan kurang memuaskan oleh karena ada pengaruh dari TBG.

Tiroiditis Hashimoto adalah suatu penyakit autoimun yang etiologinya tidak diketahui dan sering mengenai wanita berumur antara 30-50 tahun. Penyakit ini ditandai oleh munculnya antibodi terhadap tiroglobulin dalam darah, tetapi tampaknya antibodi ini lebih merupakan reaksi terhadap cedera tiroid dan ekstravasasi tiroglobulin dari folikel yang rusak daripada penyebab peradangan.

Pada tahap awal, tiroid mungkin membesar dan hiperfungsi. Pada tahap-tahap lebih lanjut, terjadi kerusakan parenkim dan hipotiroidisme. Secara histologis, tiroid mengalami sebukan padat oleh limfosit. Terjadi kerusakan folikel tiroid, disertai penggantian oleh limfosit dan jaringan fibrosa. Folikel yang tersisa mengalami transformasi onkositik. Onkosit atau sel Hurthle, memiliki sitoplasma granular eosinofilik. Berdasarkan mikroskop elektron, granularitas ini dibuktikan disebabkan oleh penumpukan mitokondria.

Diagnosis hanya dapatditegakkan dengan pasti secara histologis dan biopsi, namun hasil biopsi sering tidak dapat dipercaya. Diagnosis presumptif dapat dibuat atas dasar gambaran klinis dan tingginya titer antibodi yaitu lebih dari 1/32 untuk antobodi mikrosomal atau 1/100 untuk antibodi tiroglobulin.

Tiroiditis Riedel adalah suatu proses fibrosis kroniks di mana jaringan fibrosa padat menggantikan folikel tiroid yang rusak. Pada penyakit ini tidak dijumpai antibodi antitiroid, dan penyakit ini mungkin bukan suatu penyakit autoimun. Keterkaitan dengan fibromatosis lain mengisyaratkan bahwa penyakit ini mungkin merupakan suatu kelainan multisistemik berupa proliferasi hebat fibroblas dan pengendapan kolagen yang tidak wajar.

Makroskopik:

· besar, konsistensi keras

· asimetrik, noduler

· melekat dengan jaringan sekitar

Mikroskopik:

· tidak khas, bila lanjut maka parenkim sangat atrofik

· di antara jaringan parut terdapat kelompok-kelompok limfosit, tetapi tidak sampai membentuk folikel limfoid seperti di Hashimoto

Klinis:

· lebih sering pada wanita

· pada dekade keenam

Tiroiditis DeQuervain yang juga dikenal sebagai tiroiditis sel raksasa atau granulomatosa, ditandai oleh pembesaran tiroid mendadak dan nyeri. Penyakit ini diduga disebabkan oleh infeksi virus. Folikel yang rusak akibat infeksi mengalami ruptur dan meneluarkan tiroglobulin, yang mencetuskan reaksi sel raksasa benda asing.

Perjalanan penyakit khas yaitu pada permulaan penyakit, pasien mengeluh nyeri di leher bagian depan menjalar ke telinga, demam, malaise, disertai gejala hipertiroidisme ringan atau sedang. Kada tiroksin serum tinggi. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tiroid yang membesar, nyeri tekan disertai takikardi berkeringat, demam, tremor. Pemeriksaan lab sering dijumpai tanpa leukositosis, LED meniggi. Pada 2/3 kasus, kadar hormon tiroid meninggi karena penglepasan hormon tiroid yang berlebihan akibat destruksi kelenjar tiroid oleh proses inflamasi. Keadaan tersebut disertai dengan periode hipotiroidisme selama 2-4 minggu. Perbaikan fungsi tiroid terjadi dalam 2-4 bulan kadang lebih lama. Penyembuhan biasanya sejajar dengan perbaikan uji tangkap iodium.

Makroskopis:

· pembesaran asimetris

· melekat dengan jaringan sekitar

Mikroskopis:

· mula-mula terdapat sel radang di sekitar folikel, kemudian akan merusak epitel, menjadi nekrotik dan terlepas

· biasanya tempat-tempat yang terkena merupakan bercak-bercak setempat

· sel datia berinti banyak

· kemudian timbul fibrosis

Klinis:

· nyeri sekali, menyebar ke telinga

· frekuensi laki-laki : wanita = 1:5

· jika tidak sembuh sendiri menjai fibrosis pregresif dan penurunan fungsi tiroid

Pengobatan. Biasanya sembuh sendiri, namun bisa diberikan asetosal untuk mengurangi rasa nyeri. Pada keadaan berat dapat diberikan glukokortikoid (prednison) dengan dosis 50 mg/hari.

REFERENSI

Swartz, Mark H. Buku Ajar Diagnosis Fisik. 2005. Jakarta: EGC

Kariadi, Sri Hartini.“Struma Nodosa Non-toksik“ dalam Buku Ajar Penyakit Dalam. 2003. Jakarta: Gaya Baru

Marwoto, J.W. dan M.J. Linggananda. Susunan Endokrin“ dalam Patologi. 2004. Jakarta: Bagian Patologi Anatomik FKUI

bagan diagnosis tiroiditis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2009
M T W T F S S
« Jan   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

%d bloggers like this: